KEISLAMAN

Hukum Pernikahan bagi Pasangan Zinah

Hukum Pernikahan Pasangan Zina

Situasi yang seperti ini tidak bisa kita pungkiri di akhir zaman ini. Tak ayal, begitu banyak sekali perzainahan di kota-kota besar bahkan (bahkan) sudah merambah ke setiap perkampungan-perkampungan di desa. Lantas bagaimana hukum pernikahan bagi pasangan zinah?.

Perzainahan yang merajalela khususnya bagi kaum-kaum muda yang hidup dalam ke-gelamour-an dunia. Bagi mereka kehidupan ini layaknya menjadi tren di kalangannya. Berfoya-foya dan mabuk-mabukan secara sadar menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihindari.

fatalnya, hal serupa banyak terjadi di perkampungan di setiap sudut desa. Para pemuda yang tidak tersentuh hatinya oleh cahaya ilahi membuat dirinya lupa diri. Sehingga dengan mudah dihasut dan terombang-ambing oleh hawa nafsunya sendiri.

Masa muda yang seharusnya dimanfaatkan dengan kegiatan-kegiatan kebaikan seperti mengaji dan berbakti kepada orang tua, mengabdi kepada masyarakat agar kelak menjadi generasi penerus bangsa serta menjadi kebanggan para pendiri bangsa ternyata menjadi sebuah pilihan baginya.

Padahal sebuah keterangan telah menjelaskan bahwa “pemuda masa kini adalah generasi pemimpin yang kelak akan menjadi penerus di masa yang akan datang”. Apa yang bisa dikata mereka yang telah luput dari kehidupan yang gelap gulita tidak bisa menemukan cahaya yang bisa menuntun dirinya ke jalan yang benar.

Dikisahkan Zaed dan Sarwiti telah berpacaran selama bertahun-tahun. Mereka telah menjalin hubungan dalam romansa cinta yang amat indah. Sering berduaan kemana-mana, sesekali setiap liburan tiba mereka pun berlibur ke tempat-tempat rekreasi. Bucin (budak cinta) orang sekarang mengistilahkannya.

Keharmonisan dalam gaya berpacaran mereka sampai menimbulkan rasa kepercayaan satu sama lain. Artinya rela berjuang dan mau memberikan apa yang mereka saling inginkan. Waktu terus berlalu, semakin lama mereka berpacaran hingga mereka hanyut dalam tipu daya setan.

Pada suatu malam Zaed dan Sarwiti tertangkap basah saat melakukan hubungan haram di sebuah villa kosong. Sesuai adat istiadat setempat akhirnya mereka berdua dinikahkan dengan paksa oleh aparat setempat. Padahal pada saat itu Sarwiti tengah hamil tiga bulan akibat hubungan mesumnya dengan Zaed.

Sedangkan dalam kitab suci Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa perbuatan zina dilarang keras, banyak pula kajian hadits yang melarang perbuatan tersebut.

Pertanyaan

Lantas bagaimana hukum pernikahan bagi pasangan zinah? Sahkah akad nikahnya dua sejoli yang telah melakukan hubungan zinah, bahkan telah hamil?

Tentu sebagai santri, dalam menghadapi polemik di masayarakat harus mampu menjawab masalah terkait hal-hal demikian.

Jawaban

Maka jawaban yang terdapat dalam sebuah buku Jabalkat (Jawaban Problematika Masyarakat) ialah tetap sah. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas ra:

عن ابن عباس رضي الله عنهما فيمن فجر بإمرأة ثم تزوجها قال أوله سفاح و آخره نكاح لا بأس به . رواه البيهقي

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas perihal lelaki yang berbuat mesum dengan sorang wanita kemudian dia menikahinya. Beliau menjawab: permulaannya haram dan diakhirinya nikah yang tidak ada keharaman di dalamnya”. (HR. Baehaqi)

Referensi:

الفقه على مذاهب الأربعة (١٠٥٣) دار الكتب العلميه
(حكم نكاح الزنية)
الحنفية و الشافعية قالوا: إذا زنا رجل بإمرأة يجوز له أن يتزوجها بعد ذلك بعقد صحيح وذلك لأن ماء الزنا لا حرمة له ولما روي أن رجلاً زنا بإمرأة في زمن أبي بكر الصديق رضي الله عنه فجلد هما مائة جلدة لأنهما كانا غير محصنين ثم زوج أحدهما من الآخر ونفاهما سنة، وروى مثل ذلك عن عمر وابن مسعود وجابر ابن عبدالله رضي الله تعالى عنهم، وقال ابن عباس رضي الله عنهما في هذا الحكم: أوله سفاح و آخره نكاح والنكاح مباح فلا يحرم السفاح النكاح، ذلك مثل رجل سرق من حائط ثمرة ثم أتى صاحب البستان فاشترى منه ثمرة فما سرق حرام وما اشترى حلال

فتاوى ابن حجر الهيثمي (٩٣/٤) دار الفكر
أما نكاح الحامل من الزنا فقيه خلاف منتشر أيضا بين أئمتنا وغيرهم والصحيح عندنا الصحة وبه قال: أبو حنيفة رضي الله تعالى عنه لأنها ليست في نكاح ولا عدة من الغير وعن مالك رضي الله تعالى عنه قول بخلافه، ثم إذا قلد القائلين بحل نكاحها فهل له وطؤها قبل الوضع الذي صححه الشيخان نعم قال الرافعي أنه لا حرمة لحمل الزنا ولو منع الوطء لمنع النكاح كوطء الشبهة.

بغية المسترشدين (٢٠١) الحرمين
(مسألة: ي ش) يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزاني وغيره ووطؤها حينئذ مع الكراهة .

روضة الطالبين و عمدة المفتين (٣٧٥/٨
لو نكح حاملا من الزنا صح نكاحه بلا خلاف وهل له وطؤها قبل الوضع وجهان: اصحهما نعم إذ لا حرمة له، ومنعه ابن الحداد الشرط الثاني أن تضع الحمل بتمامه فلو كانت حاملاً بتوأمين لم تنقض العدة حتى تضعهما حتى لو كانت رجعية ووضعت أحدهما فله الرجعية قبل ان تضع الثاني و إنما يكونان توأمين إذا وضعتهما معا أو كان بينهما دون ستة أشهر فصاعدا فالثاني حمل آخر.

0

Comments (1)

  1. […] Hukum Pernikahan bagi Pasangan Zinah 15 Februari 2020 […]

Comment here

%d blogger menyukai ini: